KECERDASAN
          Menjadi sukses, tentu saja merupakan impian setiap orang. Di antara cara menjadi sukses adalah tidak hanya dengan meningkatkan kecerdasan intelektual saja, namun juga mengasah kecerdasan emosional dan spiritual. Kecerdasan ialah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan sifat pikiran yang mencakup sejumlah kemampuan, seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berfikir abstrak, memahami gagasan dan menggunakan bahasa. Kecerdasan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan sukses gagalnya seseorang. Tetapi tidak ada jaminan bahwa dengan taraf kecerdasan tinggi seseorang secara otomatis akan sukses dalam hidupnya.
Gardner dalam bukunya Jasmine mengenalkan teori kecerdasan majemuk yang menyatakan bahwa kecerdasan meliputi delapan. Yaitu liguistik, matematis, visual, visual, kinestetik, interpersponal, intrapersonal, dan naturalisme. Teori tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa kemampuan intelektual yang diukur melalui tes IQ sangatlah terbatas, karena tes IQ hanya menekankan pada kemampuan logika (matematis) dan bahasa (linguistik). Padahal setiap orang mempunyai cara yang unik untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Kecerdasan bukan hanya dilihat dari nilai yang diperoleh seseorang, melainkan kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain.
Kecerdasan emosional
Selama bertahun-tahun kecerdasan intelegensi (IQ) telah diyakini menjadi ukuran standar kecerdasan, namun sejalan dengan tantangab dan suasana kehidupan modern yang serba kompleks, ukuran standar IQ ini memicu perdebatan sengit dan sekaligus menggairahkan di kalangan akademis, pendidikan, praktis bisnis dan bahkan public awam, terutama apabila dihubungkan dengan tingkat kesuksesan atau prestasi seseorang.
Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk memotivasi dan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan hubungannya dengan orang lain. Orang yang ber-IQ tinggi tetapi karena emosinya tidak stabil dan mudah marah seringkali keliru karena tidak dapat berkosentrasi. Emosinya yang tidak berkembang, tidak terkuasai, sering membuatnya berubah-ubah dalam menghadapi persoalan dan sikap terhadap orang lain sehingga banyak menimbulkan konflik.
Daniel Goleman (1998) adalah salah seorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dianggap sebagai faktor penting yang dapat mempengaruhi terhadap prestasi seseorang, yakni kecerdasan emosional (Emocional Quotient). Penelitian yang dilakukan oleh Goleman menunjukan bahwa kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% sisanya 80% ditentukan oleh serumpun faktor yang disebut kecerdasan emosional.
Aspek-aspek kecerdasan emosional.
Berdasarkan pendapat Goleman (dalam mutadin, 2002:1) membagi kecerdasan emosional dalam beberapa aspek yaitu:
Mengenali emosi diri. Yakni kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan kecerdasan emosional. Pada tahap ini perlu ada pemantauan perasaan dari waktu ke waktu timbul wawasan psikologi dan pemahan tentang diri.
Mengelola emosi. Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkapkan dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri.
Memotivasi diri. Kemampuan seseorang dapat ditelusuri melalui dorongan sebagai berikut, cara mengendalikan dorongan hati, derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap semangat kerja, kekuatan berfikir positif, optimisme, dan keadaan flow.
Mengenali emosi orang lain. Empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri.
Membina hubungan dengan orang lain.

Emosi yang kurang terolah juga dengan mudah menyebabkan orang lain kadang  sangat bersemanagt menyetujui sesuatu, tetapi dalam waktu singkat berubah menolaknya, sehingga mengacaukan kerja sama yang disepakati bersama orang lain. Akhinya seseorang mengalami kegagalan.
Di lain pihak beberapa orang yang IQ-nya tidak tinggi, karena ketekunan dan emosinya yang seimbang, sukses dalam belajar dan bekerja. Orang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi akan berupaya menciptakan keseimbangan diri dan lingkungan, mengusahakan kebahagiaan dari dalam dirinya sendiri, dapat mengubah yang buruk menjadi lebih baik, serta mampu bekerja sama dengan orang lain yang mempunyai latar belakang yang beragam.

Kecerdasan intelektual
Kecerdasan ini ditemukan sekitar tahun 1912 oleh william stern. Digunakan sebagai pengukur kualitas seseorang pada masa saat itu, dan ternyata masih juga di indonesia saat ini. Bahkan untuk masuk ke militer, IQ lah yang menentukan tingkat keberhasilan dalam penerimaan masuk ke militer. Kecerdasan ini terletak di bagian Cortex (kulit otak). Kecerdasan ini adalah sebuah kecerdasan yang memberikan kemampuan untuk berhitung, beranalogi, berimajinasi dan memiliki daya kreasi serta inovasi. Atau lebih tepatnya diungkapkan oleh pakar psikologi dengan What I think. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Imran ayat 19.

Akal yang berpusat di otak (al-demagh) adalah komponen yang terdapat pada diri manusia yang mempunyai kemampuan memperoleh pengetahuan secara nalar. Setelah memperoleh maupun menyimpan benda-benda antara satu dengan yang lain, bergantung pada wadah kognitif yang dimiliki seseorang. Di gambarkan oleh Seto Mulyadi bahwa ada manusia yang berwadah kognitif sebesar gelas kecil ada yang besar gelas besar, ada pula yang sampai sebesar danau. Semakin besar kognitif, semakin banyak pengetahuan yang dapat diserap dan disimpan dalam kognitif orang tersebut.
Kecerdasan dibagi dua macam :
Intelektual praktis, yakni intelegensi untuk dapat mengatasi suatu situasi yang sulit yang berlangsung secara sepat dan tepat.
Intelektual teoritis, yakni intelektual dalam rangka mendapatkan pemikiran-pemikiran penyelesaian masalah dengan tepat dan cepat.
Kecerdasan intelektual dapat dilihat dari kemampuan seseorang memandang masalah secara ilmiyah, logis dan menyusun rumusan problem solving berdasarkan teori. Hanya saja orang yang cerdas secara intelektual terkadang terkesan kepada logika yang tidak relevan dengan problem solving itu sendiri. Dia puas dengan analisis yang maduk akal dan bangga kepada kaidak ilmu.
Kecerdasan spiritual
Kecerdasan spiritual adalah suatu kecerdasan dimana kita berusaha menyelesaikan masalah hidup berdasarkan nilai-nilai spiritual atau agama yang di yakini. Kecerdasan spiritual ialah suatu kecerdasan dimana kita berusaha menempatkan tindakan-tindakan dan kehidupan ke dalam suatu konteks yang lebih luas dan lebih kaya, serta lebih bermakna. Kecerdasan spiritual merupakan dasar yang perlu untuk mendorong berfungsinya lebih efektif, baik intelegensi Quotient (IQ) maupun emotional intelligence (EI). Jadi, kecerdasan spiritual berkaitan dengan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.
Hasil penelitian para psikologi USA menyompulkan bahwa kesuksesan dan keberhasilan seseorang didalam menjalin kehidupan sangat didukung oleh kecerdasan emosional (EQ-80%), sedangkan peranan kecerdasan intelektual (IQ) hanya 20% saja. Dimana ternyata pusatnya IQ dan SQ adalah kecerdasan spiritual (SQ).
Ternyata setelah disadari oleh manusia, bahagia sebuah perasaan subjektif lebih banyak ditentukan denganrasa bermakna. Rasa bermakna bagi manusia, bagi alam, dan terutama bagi kekuatan besar yang disadari manusia yaitu Tuhan. Manusia mencari makna, inilah penjelasan dalam keadaan pedih dan sengsara sebagian manusia masih tetap dapat tersenyum. Karena bahagia tercipta dari rasa bermakna, dan tidak identik dengan mencapai cita-cita.
Akhirnya melalui kecerdasan spiritual manusia mampu menciptakan makna untuk tujuan-tujuannya. Hasil dari kecerdasan aspirasi yangberupa cita-cita diberi makna oleh kecerdasan spiritual. Kunci bahagia adalah kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual berkaitan dengan masalah makna, motivasi, dan tujuan hidup sendiri. Jika IQ berperan memberi solusi intelektual teknikal, EQ meratakan jalan membangun relasi sosial, SQ mempertanyakan apakah makna, tujuan, dan filsafat hidup manusia.  

Komentar