Selamat berhari pekan guys!
Saya sering mendengar ungkapan yang mengatakan “apa yang kita peroleh hari ini adalah tentang harimu kemarin”. Kali ini saya akan bercerita mengenai pengalaman masa kecil yang bisa di bilang berimbas pada masa sekarang. Saat itu saya bersekolah di SDN 1 Cialam Jaya sekarang beralih nama menjadi SDN 30 Konsel. Saya beranggapan bahwa sistem pendidikan tidak adil untuk beberapa orang, salah satunya saya. Pemikiran itu lahir saat saya dinyatakan tidak naik kelas dua sekolah dasar. Katanya sih.., karena tidak bisa membaca. Perasaan jengkel, malu dan marah bercampur jadi satu.
Saya berfikir ibu wali kelasku tidak adil karena saya melihat bebarapa teman saya yang tidak bisa membaca, tetap di naikkan kelas. Mungkin wali kelasku salah menilai atau hanya menilai karena faktor kedekatan. Tapi entahlah! Sependek yang saya tahu ada tiga jenis penilaian yang pertama dilihat dari segi aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik, beberapa poin itu yang saya pelajari di bangku perkuliahan.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar sampai madrasah aliyah, saya sering mendengar bahwa mendidikan amatlah penting. Tapi hanya sebatas itu, saya tidak mengetahui dan memahami arti “penting” yang sebenarnya. Saya masuk di IAIN Kendari sejak 2015 dan sekarang usiaku 21 tahun. Awalnya saya bercita-cita menjadi seorang ekonom. Setelah melalui beberapa proses dan perjalanan yang cukup panjang, perlahan pemikiran itu mulai berubah. Pendidikan amatlah penting untuk menunjang masa depan yang lebih baik. Dengan bersekolah kita belajar, berlatih, mengasah diri dan mencari apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan kita seperti pepatah kejarlah ilmu meski sampai keliang lahat. Di kampus biru, saya mengambil jurusan tarbiyah dan ilmu keguruan prodi PGMI (pendidikan guru madrasah ibtidaiyah), awalnya itu bukan jurusan yang saya minati tapi karena permintaan kedua orangtuaku dan akhirnya saya memenuhi keinginan mereka.
“Ala biasa karena terbiasa”. Dan akhirnya jatuh hati, saya tersadar betapa mulianya profesi seorang guru. Tugas yang tidak mudah namun luarbiasa, guru pahlawan tanpa tanda jasa. Dari situ saya mulai merubah tujuan hidup salah satunya yaitu menjadi guru profesional tidak lain yaitu untuk mencerdaskan dan menanamkan semangat pendidikan serta pentingnya bersekolah. Tidak lupa semangat yang ada pada hari ini adalah kumpulan semangat dari orang-orang terdekat termaksud kedua orangtua dan adik-adikku. Mereka bagian dari hidupku, selalu mendukung apa menjadi pilihanku. Saya berharap kedepan bisa menjadi lebih baik dan bermanfaat untuk banyak orang.
Terimakasih..!!
Saya sering mendengar ungkapan yang mengatakan “apa yang kita peroleh hari ini adalah tentang harimu kemarin”. Kali ini saya akan bercerita mengenai pengalaman masa kecil yang bisa di bilang berimbas pada masa sekarang. Saat itu saya bersekolah di SDN 1 Cialam Jaya sekarang beralih nama menjadi SDN 30 Konsel. Saya beranggapan bahwa sistem pendidikan tidak adil untuk beberapa orang, salah satunya saya. Pemikiran itu lahir saat saya dinyatakan tidak naik kelas dua sekolah dasar. Katanya sih.., karena tidak bisa membaca. Perasaan jengkel, malu dan marah bercampur jadi satu.
Saya berfikir ibu wali kelasku tidak adil karena saya melihat bebarapa teman saya yang tidak bisa membaca, tetap di naikkan kelas. Mungkin wali kelasku salah menilai atau hanya menilai karena faktor kedekatan. Tapi entahlah! Sependek yang saya tahu ada tiga jenis penilaian yang pertama dilihat dari segi aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik, beberapa poin itu yang saya pelajari di bangku perkuliahan.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar sampai madrasah aliyah, saya sering mendengar bahwa mendidikan amatlah penting. Tapi hanya sebatas itu, saya tidak mengetahui dan memahami arti “penting” yang sebenarnya. Saya masuk di IAIN Kendari sejak 2015 dan sekarang usiaku 21 tahun. Awalnya saya bercita-cita menjadi seorang ekonom. Setelah melalui beberapa proses dan perjalanan yang cukup panjang, perlahan pemikiran itu mulai berubah. Pendidikan amatlah penting untuk menunjang masa depan yang lebih baik. Dengan bersekolah kita belajar, berlatih, mengasah diri dan mencari apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan kita seperti pepatah kejarlah ilmu meski sampai keliang lahat. Di kampus biru, saya mengambil jurusan tarbiyah dan ilmu keguruan prodi PGMI (pendidikan guru madrasah ibtidaiyah), awalnya itu bukan jurusan yang saya minati tapi karena permintaan kedua orangtuaku dan akhirnya saya memenuhi keinginan mereka.
“Ala biasa karena terbiasa”. Dan akhirnya jatuh hati, saya tersadar betapa mulianya profesi seorang guru. Tugas yang tidak mudah namun luarbiasa, guru pahlawan tanpa tanda jasa. Dari situ saya mulai merubah tujuan hidup salah satunya yaitu menjadi guru profesional tidak lain yaitu untuk mencerdaskan dan menanamkan semangat pendidikan serta pentingnya bersekolah. Tidak lupa semangat yang ada pada hari ini adalah kumpulan semangat dari orang-orang terdekat termaksud kedua orangtua dan adik-adikku. Mereka bagian dari hidupku, selalu mendukung apa menjadi pilihanku. Saya berharap kedepan bisa menjadi lebih baik dan bermanfaat untuk banyak orang.
Terimakasih..!!
Komentar
Posting Komentar